Kamis, 11 Juni 2015

tujuan pendidikan umum dan islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Berbicara soal Ilmu Pendidikan Islam, itu adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Terutama dalam hal tujuan untuk mencapai pendidikan islam itu sendiri.
Tujuan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam yaitu sasaran yang akan dicapai seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.
Menurut musthafa al ghulayaini bahwa pendidikan islam ialah menanamkan akhlaq yang mulia didalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlaq itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air.
Berikut, dalam makalah kami akan dibahas mengenai tujuan dari ilmu pendidikan tersebut.

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas maka dapat di tarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Pengertian Ilmu pendidikan Islam?
2.      Bagaimana Tujuan Ilmu Pendidikan Islam?



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Ilmu Pendidikan Islam
Apa pendidikan itu menurut islam? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu dibahas definisi pendidikan menurut para pakar, setelah itu barulah dibahas kata pendidikan itu menurut islam.[1]
Menurut H.M. Arifin menjelaskan bahwa pendidikan islam diartikan proses untuk melatih kualitas mental, spiritual, lahir dan batin, jasmani maupun rohani dengan tujuan mengahasilkan manusia yang berbudaya tinggi untuk melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat baik sebagai hamba Allah maupun sebagai kholifatullah.[2]
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba menyatakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik berdasarkan hukum-hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Menurut Drs. Burlian Somad, pendidikan islam adalah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah.[3]

B.     Prinsip-prinsip pendidikan dalam islam
Tujuan pendidikan islam sesungguhnyatidak terlepas dari prinsip-prinsip pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam hal ini, paling tidak ada lima prinsip dalam pendidikan islam. Kelima prinsip tersebut adalah:
Pertama, prinsip intergrasi (tauhid). Prinsip ini memandang adanya wujud kesatuan dunia-akhirat. Oleh karena itu, pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai kebahagian di dunia sekaligus di akhirat.
Kedua, prinsip keseimbangan. Prinsip ini merupakan konsekuensi dari orinsip integrasi. Keseimbangan yang proporsional terapan, antara muatan ruhaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni dan ilmu terapan, antara teori  dan praktek, dan antara nilai yang menyangkut aqidah, syari’ah dan akhlak.
Ketiga, prinsip persamaan dan pembebasan. Prinsip ini dikembangkan dari nilai tauhid, bahwa Tuhan adalah esa. Oleh karena itu, setiap individu bahkan semua mahkluk hidup diciptakan oleh pencipta yang sama ( Tuhan ). Perbedaan hanyalah unsur untuk memperkuat persatuan. Pendidikan islam adalah satu upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan mulia. Manusia, dengan pendidikan diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan dan nafsu hayawaniahnya sendiri.
Keempat, prinsip kontinuitas dan berkelanjutan ( istiqamah ). Dari prinsip inilah dikenal konsep pendidikan seumur hidup ( life long education ) sebab di dalam islam, belajar adalah suatu kewajiban yang tidak pernah dan tidak boleh berakhir. Seruan membaca yang ada dalam Al-Qur’an merupakan perintah yang tidak mengenal batas waktu. Dengan menuntut ilmu serta kontinu dan terus-menerus, diharapkan akan muncul kesadaran pada diri manusia akan diri dan lingkungan, dan yang lebih penting tentu saja adalah kesadaran akan Tuhannya.
Kelima, prinsip kemaslahatan dan keutamaan. Jika ruh tauhid telah berkembang dalam system moral dan akhlak seseorang dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang jauh dari kotoran maka ia akan memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan. Sebab, nilai tauhid hanya bisa dirasakan apabila ia telah dimanifestasikan dalam gerak langkah manusia untuk kemaslahatan, keutamaan manusia itu sendiri.[4]

C.  Tujuan Ilmu Pendidikan Islam
Kegiatan yang tanpa disertai tujuan sasarannya akan kabur, akibatnya program dan kegiatannya sendiri akan menjadi acak-acakan.[5]
Adapun tujuan dalam proses hal ini mencakup 2 macam yaitu:
a.       Tujuan keagamaan (Al-Ghardhud Dieny)
            Yaitu tujuan yang terisi penuh nilai rohaniah Islam dan berorientasi kepada kebahagiaan hidup di akhirat. Tujuan ini difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syariat Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju makrifat kepada Allah.
Ayat Al-Qur’an  seperti tersebut berikut ini dijadikan tumpuan cita-cita hidupnya:
قَد َأْفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى (4) وَذَكَرَسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (5) بَلْ تُؤْثِرُوْنَ اْلحَيَوةَ الدُّنْيَا (6) وَاْلأَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (7)
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan Dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang, tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (QS. Al- A’laa: 14-17).
b.      Tujuan keduniaan (Al-Ghardhud Dunyawi)
Tujuan ini lebih mengutamakan pada upaya untuk mewujudkan kehidupan sejahtera di dunia dan kemanfaatannya. Tujuan pendidikan jenis ini dapat dibedakan menjadi bermacam-macam tujuan, misalnya: tujuan pendidikan menurut paham pragmatisme, hanya menitikberatkan pada suatu kemanfaatan hidup manusia di dunia dimana ukuran-ukurannya sangat relative, bergantung pada kebudayaan atau peradaban manusia. Nilai-nilai kehidupan didasarkan atas kecenderungan-kecenderungan hidup sosial budaya yang berbeda-beda menurut tempat dan waktu. Oleh karena itu tujuan pendidikan menurut paham pragmatism ini selalu berubah-ubah menurut tuntutan waktu dan tempat dimana manusia berpacu mencapai kepuasan hidupnya.[6]
Dalam adagium ushuliyah dinyatakan bahwa: “al-umur bi maqashidiha”, bahwa setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Adagium ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, bukan semata-mata berorientasi pada sederetan materi. Karena itulah, tujuan pendidikan Islam menjadi komponen pendidikan yang harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan komponen-komponen pendidikan yang lain.
Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan.
Perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada hakikat pendidikan yang meliputi beberapa aspeknya, misalnya tentang: Pertama, tujuan dan tugas hidup manusia. Manusia hidup bukan karena kebetulan dan sia-sia. Ia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas hidup tertentu (QS. Ali Imron: 191). Tujuan diciptakan manusia hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Indikasi tugasnya berupa ibadah (sebagai ‘abd Allah) dan tugas sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah). Firman Allah SWT:
قل ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.” (QS. AL- An’am: 162).
            Kedua, memerhatikan  sifat-sifat dasar (nature) manusia, yaitu konsep tentang manusia sebagai makhluk unik yang mempunyai beberapa potensi bawaan, seperti fitrah, bakat, minat, sifat, dan karakter, yang berkecenderungan pada al- hanief  (rindu akan kebenaran dari Tuhan) berupa agama Islam (QS. Al- Kahfi: 29) sebatas kemampuan, kapasitas, dan ukuran yang ada. Ketiga, tuntutan masyarakat. Tuntutan ini baik berupa pelestarian nilai-nilai budaya yang telah melembaga dalam kehidupan suatu masyarakat, maupun pemenuhan terhadap tuntutn kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan dunia modern.
Keempat, dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam. Dimensi kehidupan dunia ideal Islam mengandung nilai yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia sebagai bekal kehidupan di akhirat, serta mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akhirat yang lebih membahagiakan, sehingga manusia dituntut agar tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki. Namun demikian, kemelaratan dan kemiskinan dunia harus diberantas, sebab kemelaratan dunia bisa menjadikan ancaman yang menjerumuskan manusia pada kekufuran.
Selanjutnya membahas pentingnya Pendidika Untuk Kemajuan Masyarakat Islam. Stiap kita yang merenungkan keadaan islam di berbagai tempat dan negeri akan mendapati bahwa masyarakat-masyarakat mengalami masalah budaya,ekonomi,social dan politik jika kita renungkan lebih lama masalah-masalah ini lebih lama niscaya kita sampai kepada kesimpulan bahwa walaupun masalah itu kelihatannya banyak dan macam-macam, tetapi sebenarnya dapat dikembalikan kepada sebab-sebab yang sedikit saja. Yang paling pertama sekali adalah sebab kaum muslimin tidak melaksanakan dengan sempurna ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama dalam segala urusan kehidupannya, begitu juga sebab keterbelakangan pemikiran dan pendidikan pada kehidupan hari ini. jadi mereka tidaklah mengalami masalah dan keterbelakangan itu kecuali karena mereka meninggalkan ajara-ajaran agamanya dan melupakan sumber-sumber kekuatan dan kemuliaan yang mengajak kepada ilmu yang berfaedah, amal shalih, dan berjihad di jalan Allah. begitu juga sebab terbelakang pemikirannya, melupakan pendidikan dan mereka menjadi budak kepada orang-orang lain dalam segala siste pendidikan, ekonomi, politik, dan per undang-undangan. Mereka melaksanakan system-sistem yang asing terhadap nilai-nilai agama dan budaya islam yang sejati. Ini menyebabkan mereka kehilangan identitas islam yang unik yang merupakan cirri-ciri khas mereka pada zaman keemasan dan keagungannya.
Mengenai pendidikan itu sendiri perlu kita bicarakan mengenai filsafatnya dalam bab ini. sebab pentingnya untuk pertumbuhan individu dan masyarakat sekarang sudah menjadi fakta yang diterima dikalangan ahli-ahli pendidikan, ahli-ahli sosiologi, ahli ekonomi, dan ahli politik. Mereka semua setuju bahwa pendidikan adalah semacam investment untuk menumbuhkan sumber-sumber manusia yang tidak kurang nilainya dan investment pada pertumbuhan sumber-sumber material.
Diantara segi-segi pertumbuhan dan persiapan yang mungkin disumbangkan oleh pendidikan kepada individu muslim adalah membuka pribadinya dan mengembangkan berbagai seginya kearah yang diinginkan oleh masyarakat islam, memperkenalkan kepadanya akan hak-hak yang diberi kepadanya oleh Tuhan sebagai individu di dalam suatu masyarakat islam, begitu juga kewajiba-kewajiban, tanggung jawab, dan keharusan-keharusan sebagai akibat dari hak-hak ini. ia juga harus disiapkan dengan sehat untuk menikmati dan mempergunakan dengan bijaksana hak-hak itu dan memikul kewajiban-kewajiban, tanggung jawab-tanggung jawab, dan keharusan-keharusan dengan penuh kemampuan. Ia juga harus disiapkan untuk mengadakan hubungan-hubungan social yang berhasil dan kehidupan ekonomi yang produktif.
Pendidikan yang baik member sumbangan pada semua bidang pertumbuhan individu: dalam pertumbuhan jasmani dari segi structural dan fungsional. Ia juga membantunya menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, keterampilan-keterampilan, dan kekuatan jasmaninya, begitu juga memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang betul yang memperbolehkannya mencapai kesehatan jasmani yang wajar, keserasian badan yang sesuai dengan memelihara kesehatan dan keserasian ini.
Dalam bidang pertumbuhan akal(intelektual) pendidikan dapat menolong individu untuk meningkatkan, mengembangkan, dan menumbuhkan kesediaan, bakat-bakat, minat, dan kemampuan-kemampuan akalnya dan memberinya pengetahuan dan keterampilan akal yang perlu dalam hidupnya.
Dalam bidang pertumbuhan psikologis pendidikan yang baik, melalui berbagai medianya, dapat menolong individu mendidik dan mengahaluskan perasaannya dan mengarahkannya kearah yang diingini dimana ia menjadi kekuatan dan motivasi-motivasi kearah kebaikan dan kerja yang membina dan berhasil yang dapat mencapai kemaslahatannya dan kemaslahatan masyarakat dimana ia hidup. Ia juga dapat menolongnya menumbuhkan perasaan kemanusiaan yang mulia yang menjadikannya manusia yang merasakan penderitaan dan masalah-masalahnya dan berusaha dan berkorban untuk mereka. Begitu juga menolongnya menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.
Dan dalam bidang pertumbuhan spiritual dan moral, pendidikan yang baik dapat menolong individu menguatkan iman, akidah, dan pengetahuan terhadap Tuhannya dan dengan hukum-hukum, ajaran-ajaran dan moral agamanya. Begitu juga membentuk keinginan yang betul dalam melaksanakan tuntutan-tuntutan iman yang kuat kepada Allah dan pemahaman yang sadar terhadap ajaran-ajaran agama dan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari dan pada seluruh bentuk tingkah lakunya dan dengan hubungan-hubungan dengan Tuhannya, dengan orang-orang lain dan dengan seluruh makhluk yang lain.
Kalau pendidikan begitu pentig bagi individu dan masyarakat, dan kalau kepentingan bukan terbatas pada suatu umat atau masyarakat saja bukan juga untuk suatu zaman saja, tetapi meliputi semua umat dan masyarakat disegala zaman, termasuk umat dan masyarakat islam di zaman sekarang, maka adalah kewajiban masyarakat islam, memimpin, dan reformer-reformer di masyarakat-masyarakat ini member perhatian penuh pada pendidikan dan bekerja sama untuk memperbaiki dan mengukuhkan pendidikan dengan segala cara supaya dapat ia mencapai tujuan dan cita-cita individual dan social yang di kejarnya. Untuk menyebabkan dan menyamaratakan peluang-peluang pendidikan kepada semua warga Negara dan memperbaiki kualitasnya haruslah Negara-negara islam mengkhususkan kadar yang besar dari pendapatan nasionalnya untuk biaya pendidikan. [7]
Secara umum pendidikan bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan harmonis setiap pribadi dengan allah, manusia, dan alam semesta.
Tujuan umum itu dapat dijabarkan dalam tiga aspek :
1.      Menyempurnakan hubungan manusia dengan khaliqnya. Semskin dekat dan terpelihara hubungan dengan khaliqnya akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang dan semakin terbuka pulalah kesadaran akan penerimaan rasa ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangannya sehingga dengan demikian peluang untuk memperoleh kejayaan semakin menjadi terbuka. 
2.      Meyempurnakan hubungan manusia dengan sesamanya. Memelihara, memperbaiki, dan meningkatkan hubungan antar manusia dan linggkungan merupakan upaya manusia yang harus senantiasa dikembangkan terus menerus. Disinilah terjadi interasi antara sesame manusia baik dengan muslim maupun bukan, sehingga tampak betapa citra islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkath laku para pemeluknya.
3.      Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kedua hubungan itu dan mengaktifkan keduanya sejalan dan terjalin dalam diri pribadi. Ini berarti upaya yang terus menerus untuk mengenal dan memperbaiki diri. Upaya untuk mengenal, memperbaiki diri dan mengaktualisasikan kedua aspek tersebut diatas secara serasi, seimbang, dan selaras dalam bentuk tindakan dan kegiatan sehari-hari memberi petunjuk atas sejauh manakah tingkat hamba allah allah itu telah dicapai seseorang.
Kemudian tujuan pendidikan islam secara khusus yang dijelaskan oleh endang komara, yang telah merinci tujuan pendidikan islam pada tiga hal ;
1.      Tercapainya tujuan hablumminallah (hubungan dengan allah)
2.      Tercapainya tujuan hablumminannas (hubungan dengan manusia)
3.      Tercapainya tujuan hablumminal’alam (hubungan dengan alam)
Menurut Abdul fattah Jalal, tujuan umum pendidikan islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia menyatakan bahwa, tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tuuan khusus. Dengan mengutip surat al-Takwir ayat 27, jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi menurut islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia menjadi manusia yang  menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.[8]
Bila pendidikan diartikan sebagai latihan mental, moral, dan fisik yang bisa menghasilkan manusia berbudaya tinggi maka pendidikan berarti menumbuhkan personalitas (kepribadian) serta menanamkan rasa tanggung jawab. Usaha kependidikan bagi manusia menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi pertumbuhan manusia.
Oleh karena itu, bila manusia yang berpredikat muslim, menaati ajaran Islam dan menjaga agar rahmat Allah tetap berada pada dirinya. Ia harus mampu memahami, menghayati dan mengamalkan ajarannya sesuai iman dan akidah Islamiah.
Untuk tujuan itulah, manusia harus dididik melalui proses pendiidikan Islam. Berdasarkan pandangan di atas, pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan pendidikan Islam harus mampu hidup didalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam.
Dengan demikian, pengertian Pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah, sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun ukhrowi.[9]
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari ayat 56 surat al-Dzariyat yang artinya    “ Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-ku” . Dalam kerangka inilah maka tujuan pendidikan haruslah mempersiapkan manusia agar beribadah seperti itu, agar ia menjadi hamba Allah. Dengan melihat tujuan seperti ini dapatlah dibuat rumusan tujuan pendidikan yang lebih khusus, yaitu dengan mempelajari lebih dahulu apa saja aspek tersebut.[10]
Muhammad Quthb tatkala membicarakan tujuan pendidikan menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Akan tetapi,tujuan pendidikan tidak berubah. Yang dimaksud ialah tujuan penidikan yang umum itu. Tujuan pendidikan yang khusus dapat berubah sesuai dengan kondisi tertentu. Namun, bagian yang mendasar dalam tujuan pendidikan yang khusus tidak berubah.
Menurut Quthb, tujuan umum pendidikan adalah manusia yang takwa. Itulah manusia yang baik menurutnya. Itu diambilnya dari Al-Qur’an surat al-hujarat ayat 13 yang artinya: “ sungguh yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah ialah yang paling tinggi tingkat ketakwaannya. Konferensi dunia pertama tentang pendidikan islam berkesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah.[11]
Membicarakan tujuan pendidikan umum memang paling penting. Tujuan umum itu tetap menjadi arah pendidikan islam. Untuk keperluan pelaksaan pendidikan, tujuan itu harus dirinci menjadi tujuan khusus bahkan sampai ke tujuan yang operasional. Usaha merinci tujuan umum itu sudah pernah dilakukan oleh para ahli pendidikan islam. Al-Syaibani, misalnya menjabarkan tujuan pendidikan islam menjadi:
1.      Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku, jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2.      Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan hidup masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.                     
3.       Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Al-Abrasyi merinci tujuan akhir pendidikan islam menjadi:
1.      Pembinaan akhlak
2.      Menyiapkan anak didik untuk hidup di dunia dan akhirat
3.      Penguasaan ilmu
4.      Ketrampilan bekerja dalam masyarakat
Bagi Asma Hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan islam dapat dirinci sebagai berikut:
1.      Tujuan keagamaan
2.      Tujuan pengembangan akal, akhlak
3.      Tujuan pengajaran kebudayaan
4.      Tujuan pembinaan kepribadian
Al-Aynayni membagi tujuan pendidikan islam menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada Allah. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap berlaku di segala tempat, waktu dan keadaan. Tujuan khusus pendidikan islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi, dan lain-lain yang ada di tempat itu. Tujuan khusus ini dapat dirumuskan berdasarkan ijtihad para ahli ditempat itu. Selanjutnya ia membagi aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan islam, jadi bukan pembagian tujuan pendidikan menjadi tujuan-tujuan khusus. Aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan islam menurutnya ialah sebagai berikut:
1.      Aspek jasmani
2.      Aspek akal
3.      Aspek akidah
4.      Aspek akhlak
5.      Aspek kejiwaan
6.      Aspek keindahan
7.      Aspek kebudayaan[12]




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat di tarik kesimpulan bahwasanya dalam adagium ushuliyah dinyatakan bahwa: “al-umur bi maqashidiha”, setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Adagium ini menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai, bukan semata-mata berorientasi pada sederetan materi. Karena itulah, tujuan pendidikan Islam menjadi komponen pendidikan yang harus dirumuskan terlebih dahulu sebelum merumuskan komponen-komponen pendidikan yang lain.
Tujuan merupakan standar usaha yang dapat ditentukan, serta mengarahkan usaha yang akan dilalui dan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Di samping itu, tujuan dapat membatasi ruang gerak usaha, agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dan yang terpenting lagi adalah dapat memberi penilaian atau evaluasi pada usaha-usaha pendidikan. Jadi, tujuan pendidikan islam yaitu Muslim yang sempurna atau manusia yang bertakwa atau manusia beriman atau manusia yang beribadah kepada Allah.                  








    
DAFTAR PUSTAKA

Ahamad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosyda Karya, 2005.
Nur Uhbiyati, Dasar-Dasar Ilmu Pendidkan Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2013.
M Saekhan Muchith, Issu- Issu Kontemporer Dalam Pendidikan Islam, Kudus: STAIN Kudus, 2009.
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2005.
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1997.






[1] Ahamad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, PT. Remaja Rosyda Karya, Bandung:2005, hal 24
[2] M Saekhan muchith,  Issu- Issu Kontemporer Dalam Pendidikan Islam, Kudus: STAIN Kudus,  2009, hal 32
[3] Nur Uhbiyati, dasar-dasar ilmu pendidkan islam, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang:2013, hal 16-17.
[4] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, LKIS, Yogyakarta: 2009, Hal. 32-33
[5] Ibid.  Hal. 52.
[6] Ibid., Hal. 77.
[7] Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al Husna Baru, Jakarta: 2003, Hal. 30-32
[8] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, Hal: 46
[9] M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, Hal. 7-8.

[10] Ibid.,  hal. 46-47
[11] Ibid., hal. 48
[12] Ibid.,  hal.  49-51

1 komentar:

  1. Raging Bull Casino - Dr.D.
    Find 삼척 출장샵 all information on the Raging 안양 출장마사지 Bull Casino, including 화성 출장마사지 gaming license info & reviews, hours, games, complaints, & more. Rating: 인천광역 출장샵 4.2 · 양주 출장마사지 ‎Review by Dr.D.

    BalasHapus